Notification

×

Iklan

Iklan

Tanggapan Dokter tentang Informasi Viral Imbauan Hindari Pergi ke RS meski Alami Gejala Covid-19

Senin, 01 Juni 2020 | 11.14 WIB Last Updated 2020-06-01T05:04:53Z
Redaksi | Editor Ilham Gunawan
Postingan imbauan hindari pergi ke rumah sakit meski alami gejala Covid-19 oleh netizen. (Foto: Tangkapan layar)

Barakreportase.com
- Sebuah unggahan berisi anjuran kepada masyarakat untuk menghindari pergi ke rumah sakit saat pandemi virus Corona viral di media sosial Facebook.


Unggahan ini sempat dibagikan oleh ribuan akun lain sejak beberapa hari lalu, namun sudah dihapus pengunggah dan tidak ditemukan lagi pada Sabtu (30/5/2020).

Sejumlah dokter yang dikonfirmasi menyatakan, sebagian besar informasi yang disebar itu menyesatkan.

Ada yang tidak tepat, sehingga perlu diluruskan dan dipahami dengan informasi yang benar.


Penjelasan dan imbauan dokter

Mengonfirmasi hal tersebut, dokter spesialis penyakit dalam yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof DR dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, Minggu (31/5/2020).

Ia mengatakan, bahwa sebagian besar informasi yang disebutkan dalam pesan tersebut tidak benar atau hoaks. 

Ari menekankan, jika mengalami gejala Covid-19 sebaiknya segera menuju ke rumah sakit sebelum terlambat mendapatkan penanganan.

"Info ini (yang viral di Facebook) hoaks. Pasien Covid-19 yang meninggal karena terlambat datang ke RS. Lebih cepat datang ke RS, lebih cepat mendapat pengobatan kalau memang masuk orang dalam pantauan (ODP) atau pasien dalam pengawasan (PDP). Kalau sudah sesak datang ke RS sudah terlambat," ujar Ari seperti dilansir Kompas.com, Minggu.

Menurut dia, informasi dalam unggahan akun di atas menyesatkan dan dapat membahayakan. 

Apalagi, jika seseorang berstatus ODP dan PDP, kemudian mengalami gejala Covid-19, ada tindakan medis yang harus dilakukan petugas medis. 

Pasien ODP atau PDP ini akan diperiksa apakah terdapat keluhan demam, batuk, dan pilek karena Covid-19 atau tidak.

"Pasien juga perlu pemeriksaan darah, di beberapa RS bisa dikerjakan rapid test, apalagi kalau ada riwayat kontak, jika ternyata masuk ODP dan PDP dirawat dan akan mendapat obat standar yang bisa menekan jumlah virus, sehingga inflamasi yang terjadi tidak berat," ujar Ari.


Pentingnya memeriksakan gejala ke RS

Sementara itu, ahli penyakit tropik dan infeksi, dr Erni Juwita Nelwan, SpPD-KPTI mengatakan, ia tak menyarankan anjuran seperti dalam pesan di atas, untuk melakukan pengobatan di rumah dan tidak memeriksakan diri ke rumah sakit.

Menurut dia, seseorang dengan kondisi tertentu membutuhkan sejumlah pemeriksaan, termasuk tes darah dan hal tersebut hanya dapat dilakukan di RS.

"Sebenarnya kalau memang sakitnya ringan dan bisa dengan obat yang dijual bebas memang tidak apa-apa. Akan tetapi ada beberapa penyakit gejalanya demam, ternyata demam berdarah," ujar Erni seperti dikutip Kompas.com, Minggu siang.

Erni menjelaskan, masyarakat harus berhati-hati dengan gejala tersebut untuk memastikan penyakit yang dideritanya.

Oleh karena itu, butuh penanganan dari petugas RS.

"Jadi, harus lihat gejalanya itu sendiri. Jangan sampai bahaya karena terlambat. Misal kondisinya sudah lemah sekali, atau sampai tidak bisa makan, karena muntah-muntah tentu kondisi seperti ini harus ke dokter," lanjut dia.

Menilik gejala ringan yang disebutkan dalam unggahan akun Facebook di atas, yakni batuk, pilek, dan demam, Erni menjelaskan, yang penting dipahami adalah fase inkubasi.

"Kalau gejala agak sulit, patokannya keadaan umum saja, dan sakitnya tidak yang pas hari iru keluar langsung jatuh sakit. Ada fase inkubasinya. Yang penting jaga daya tahan tubuh dan menerapkan protokol kesehatan," ujar Erni.


Tindakan nebul dapat membahayakan

Terkait penjelasan pengobatan mandiri di rumah, seperti mengonsumsi aspirin, mengonsumsi jeruk nipis, dan melakukan nebul, ada yang harus diperhatikan.

Dokter spesialis paru dan konsultan onkologi di Rumah Sakit umum Pringadi, Kota Medan, dr Mohammad Ramadhani Soeroso, SpP(K) mengatakan, mengobati batuk dan pilek dengan jeruk nipis dan mengonsumsi aspirin memang tidak ada efek samping.

Namun, yang perlu diperhatikan adalah tindakan nebul saat seseorang mengalami gejala sesak napas.

Ramadhani menjelaskan, nebul dapat berbahaya jika uap panas yang dihirup terlalu lama dan berakibat iritasi pada kulit wajah.

"Hati-hati kalau nebul pakai air mendidih, karena uap panas ini dapat berakibat iritasi pada kulit wajah, wajah bisa terluka," ujar Ramadhani, Minggu (31/5/2020).

Ia menambahkan, gejala batuk dan pilek merupakan salah satu gejala infeksi virus corona yang juga berdampak pada saluran pernapsan dan bisa mengakibatkan gagal napas.

Ramadhani mengatakan, jika berstatus PDP ringan atau Orang Tanpa Gejala (OTG) dengan rapid test reaktif atau swab positif, maka dapat melakukan isolasi mandiri dengan arahan dari tenaga medis yang tepat.

Sementara, orang dengan status PDP sedang dan PDP berat dapat dirujuk ke rumah sakit.


Jangan remehkan Covid-19 dan kenali gejalanya

Dokter Erni mengimbau masyarakat untuk tidak meremehkan Covid-19.

Hal terpenting yang dijalankan adalah selalu menerapkan prokotol kesehatan yang sudah dianjurkan, memperhatikan kesehatan setiap anggota keluarga di rumah, dan jika membutuhkan perawatan medis harus segera dilakukan.

Melansir pemberitaan Kompas.com, 24 Maret 2020, ada tanda-tanda batuk yang mengindikasikan penderita Covid-19 antara lain batuk kering yang terjadi terus menerus dan batuk kering tidak berdahak.



Sumber: Kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update