Notification

×

Iklan

Iklan

Debt Collector Mendadak Banting Setir Jadi Tukang Parkir Akibat Corona

Selasa, 31 Maret 2020 | 23.19 WIB Last Updated 2020-03-31T23:39:11Z
Ilustrasi debt collector


BARAKreportase.com, Jakarta - Sejak Presiden Joko Widodo meminta perusahaan pembiayaan atau leasing dilarang melakukan penagihan sementara waktu, para penagih utang atau debt collector di wilayah Jakarta Selatan mendadak banting stir menjadi petugas parkir.

Budianto Tahapary, seorang pemilik usaha jasa penagihan utang, mengatakan akibat virus Corona permintaan penagihan dari perusahaan pembiayaan menjadi berkurang, tidak seperti biasanya.

Dia mengeluhkan soal sepinya permintaan, yang dulu tujuh sampai 10 permintaan per hari, kini hanya dua bahkan tidak ada sama sekali.

"Atas instruksi itu (presiden), SK (surat kuasa) berkurang sekarang. Ini sekarang baru dapat dua laporan ada uang masuk cair dari surat kuasanya," ujar Budianto, seperti yang dilansir Tempo.co pada Selasa (31/3/2020).

Pria dengan panggilan Budi ini menjelaskan untuk melakukan penagihan utang, perusahaan pembiayaan yang bekerja sama dengan perusahaan memberikan surat kuasa kepada debt collector. SK tersebut merupakan dasar hukum bagi para anggota penagih utang untuk melakukan penarikan ke debitur yang kreditnya macet.

Selaku koordinator, Budi menjelaskan setiap kali ada penagihan utang, anggota debt collector akan mentransfer uang yang telah dibayarkan oleh leasing sebagai uang retensi (biaya penanganan) atau upah.

"Biasanya sebulan bisa 10 kali transfer. Hari ini baru ada dua kali transfer nominalnya Rp 7 juta," ujarnya.

Kini Budi dan anggotanya bekerja sementara waktu menjadi juru parkir di kawasan Mampang, Jakarta, dikarenakan sepinya permintaan penagihan utang dari leasing.

Budi juga mengaku, selain memiliki perseroan terbatas yang terdaftar dengan nama PT M&T Lapanlapan, dia juga memiliki usaha parkir yang dikelola dari hasil jasa penagihan utang yang dia tekuni.

"Kami fokus di parkiran dululah. Lebih menjamin supaya bisa makan," kata Budi. 

Dia juga mengarahkan anggotanya untuk hidup berhemat selama sepinya orderan, agar bisa menyiasati situasi akibat pandemi Covid-19.

"Kami bersiasatlah, makan singkong, ngirit belanja dapur. Karena sampai hari ini kami belum tahu SK diterbitkan atau tidak. Kami menunggu kebijakan dari lembaga finance," tutur Budi.

Dalam hal ini, Jokowi menegaskan bahwa perusahaan leasing dilarang melakukan penagihan apalagi sampai menggunakan debt collector di masa pandemi Corona ini.

Pemerintah pusat rencananya akan memberikan keringanan berupa penangguhan cicilan kendaraan selama satu tahun bagi pengemudi ojek, taksi ataupun nelayan. (red)





Editor: Ilham Gunawan
×
Berita Terbaru Update